ENGLISH VERSION  |   KONTAK KAMI  |   SUMBER DANA  |   KUMPULAN PERATURAN   

Home

Tentang Kami

Web Gis

Penyaluran Dana

Program

  Cari Data :

 
User ID :
Password :
 

Permintaan sederhana dari seorang Gento (SAD Rombong Mansyur SPA, Desa Pauh Menang) Kec. Pamenang Kab. Merangin

Suatu sore tenda saya kedatangan seorang jantan dari komunitas adat Suku Anak Dalam (SAD) yang bermukin di desa Pauh Menang kec. Pamenang kab. Merangin propinsi Jambi. Namanya Gento, perawakanya kecil namun tubuhnya kekar, kulitnya hitam terbakar matahari. Ia seorang pemburu. Gento memiliki dua orang anak lelaki, yang pertama namanya permi kelas enam SD, yang kedua namanya Dani, kelas dua SD. Dani adalah juga muridku yang sering belajar bersama anak-anak lainya. Memang, tendaku sering di sambangi oleh mereka orang-orang tua yang anaknya belajar bersamaku, biasanya jika aku sedang mengajar orang tua mereka hanya memperhatikan saja apa-apa yang kami pelajari. Selesai belajar bersama aku sempatkan untuk berbincanag dengan kaum jantannya. Pernah suatu ketika aku bertanya kepada beberapa orang tua dari komunitas adat ini perihal mengapa mereka tidak berkeinginan untuk ikut belajar. Jawaban yang kudapati beragam: "orang tua malu jika harus belajar seperti anak-anak", "otak kami sudah tidak mungkin lagi bisa menerima pelajaran", "tugas orang tua hanya mencari nafkah untuk keluarga, biarlah anak-anak saja yang pintar dan belajar". Tapi sudahlah, menurutku itu pilihan mereka, tak baik juga bila harus memaksa mereka untuk belajar. Sesuatu yang bukan dari hati hasilnya pun tak maksimal.

Kalau sudah berbincang, aku yang paling sering minta mereka untuk bercerita tentang tehnik berburu, obat-obatan tradisional mereka, karna menurutku ilmu pengobatan yang bahannya dari alam sangat berguna bila di kaitkan dengan hobiku berpetualang keluar masuk rimba. Ku persilahkan Gento untuk duduk di muka tenda, tak mungkin rasanya meminta ia masuk kedalam tendaku. Jangankan untuk berdua, aku sendiri pun harus pandai-pandai melipat badan berbagi dengan perlengkapan yang aku bawa bila ingin tidur. Gento duduk seadanya. Kami berhadapan. "Idak takut tidok di siko sorang, bang?", "la biaso akeh tidok dalam rimbo, idak takut lagi", jawabku. Ku suguhkan sebungkus roti kepadanya dan di susul dengan rokok kretek, "Iko rokok, biar lancar becerito", tanganya buru-buru menyambar rokok kretek yang ku tawarkan. "Macam iko bang, akeh nak minta tolong", Gento membuka percakapan, tiba-tiba kalimatnya terhenti. Di hisapnya dalam-dalam rokok kreteknya, lalu asapnya dihembuskan buru-buru. "Akeh nak belajo baco tulis samo abang", aku tersentak mendengar permintaanya. Kucoba mendalami maksud dari kata-katanya barusan. Suasana hening sejenak. Mata kami bertemu. "Biar akeh biso baco alkitab agama akeh, biar akeh paham isi alkitab, bang", suaranya pelan namun berat. Tak kusangka kedatanganya kali ini ketendaku rupanya membawa maksud yang ingin ia utarakan. Keinginan yang mungkin telah lama ia pendam. Aku yakin, Gento pasti sudah mengumpulkan segenap keberanianya sejak dari rumah tadi hanya untuk mengungkapkan permintaanya kepadaku, dan aku tak ingin mengecewakanya. "Bilo kito biso mulai belajo?", sambungku " malam iko bang", jawabnya singkat, "iyo lah", sahutku mantap. Aku betul maklum kenapa Gento memilih malam hari, karna dari pagi sampai sore biasanya mereka berburu di hutan. Ku tangkap air mukanya berubah. Ada semangat di sana. Dan aku sekali lagi tak hendak membuat dia kecewa. Gento bangkit dari duduknya, lalu berpamitan padaku, tak lupa ia mengucapkan terimah kasih atas kesediaanku mau belajar bersamanya. Dia menungguku di rumahnya malam ini.

Selepas magrib aku bergegas menuju rumah Gento yang jaraknya kurang lebih seratus meter dari tendaku mengajar. Ada dua belas rumah semi permamen yang di tempati oleh komunitas adat ini. Rumah-rumah tersebut merupakan bantuan pemerintah, harapanya mereka tidak lagi hidup berpindah sebagai mana yang dulu sering mereka lakukan. Kedua belas rumah tersebut berdiri di atas lahan seluas kurang lebih tiga hektar, hibah dari tanah desa pauh Menang. Secara administratif pemukiman mereka masih berada dalam wilayah desa Pauh Menang.

Dari kejauhan sayup kudengar suara mesin genset. Mesin inilah yang menjadi sumber tenaga untuk penerangan di perumahan komunitas ini. Untuk bahan bakar genset mereka membelinya secara gotong royong, toh juga untuk kepentingan bersama. Sebelum tiba di rumah Gento, aku melewati sebuah rumah yang setiap malamnya selalu ramai di kunjungi warga komunitas adat ini. Tua, muda, jantan, perempuan tumpah ruah berkumpul di rumah milik Jerman. Hanya empunya rumah ini yang memiliki tv, yang lain cuma numpang nonton. Mereka menunggu acara tv favorit. sebuah sinetron yang sedang naik daun, judulnya "Ganteng-ganteng Srigala". Sungguh, mereka terbius bila sudah menonton sinetron ini. Suasana hening manakala idola mereka sedang berakting di layar kaca, dan suasana tiba-tiba akan menjadi meriah bila sinetron berubah menjadi pariwara. Kebetulan aku melewati mereka, tontonan yang di nanti belum mulai, mereka asik berbincang. Kusapa mereka dan melempar senyum, mereka bukanya membalas senyumku, tapi melemparkan tawaran untuk ikut nonton bersama mereka. Bisa kubayangkan aku berada di tengah-tengah mereka yang umumnya di dominasin kaum ibu atau dalam bahasa mereka disebut "indok", di mana sebagian masih ada yang bertelanjang dada, atau kalaupun ada yang memakai penutup dada itu bentuknya hanya bra. Tapi aku sudah punya janji dengan Gento. Aku berlalu dari mereka.

Sesampainya di rumah Gento kudapati pintunya tertutup, hanya jendelanya yang menganga, dapat kulihat Gento dari luar sedang duduk sambil menghisap rokok. "Santai", sapaku padanya melalui jendela. "Masuk bang" dia menyambutku. " pintu di tutup macam mano awak nak masok?", "lewat jendelo bang", aku kaget. "Idak apo-apo bang masok lah lewat jendelo". Uniknya, jendela yang ada di rumah Gento memang sedikit berbeda dengan jendela kebanyakan rumah-rumah lainya, ukuranya hampir sama dengan ukuran pintu, hanya lebih kecil sedikit. Aku masuk melalui jendela. Ada perasaan abnormal ketika kakiku melewati jendela itu. Ini jendela loh, tempat masuk keluarnya udara, bukan tempat masuk keluarnya orang, apa lagi untuk satu keluarga Gento. Tuan rumah mempersilahkan aku duduk di atas selembar tikar rapuh. "Duduk di tikar bang, jangan dilantai, kotor", ku penuhi permintaanya. "Sepi, kemano anak-anak samo indoknyo", tanyaku. " nonton tv bang di sebelah. Macam ikolah rumah akeh bang, harap maklum bang". ku amati tiap sudut rumahnya. Ada dua buah kamar tidur yang hanya dipisahkan oleh selembar kain buram, pada salah satu kamar teronggok ranjang rapuh dengan tumpukan kain dan pakaian yang menggunung di atasnya. Pada kamar yang lain lagi hanya terdapat sehelai kasur kumal dan kelambu tua yang mereka gunakan untuk menghalau nyamuk. Selebihbya tidak ada apa-apa. Gento mengamatiku. Ku alihkan pandangan pada sebuah benda yang menyerupai senjata api menggantung di dinding rumah "Iko kecepek?", tanyaku. "iyo bang, la banyak babi mati oleh kecepek iko bang", "buat dewek?", "iyo bang", " belajo di mano merakit kecepek iko?", "dulu akeh sering nengok orang-orang tuo kami buat kecepek bang, terus akeh belajar caro merakitnyo". Dihisapnya lagi rokoknya dalam-dalam. "Kalo bebi gedang kontan mati keno peluru kecepek iko bang", terangnya.

Tak ingin berlama-lama lagi kuminta gento untuk menyiapkan alat tulis, ia segera bangkit dari duduknya dan mengambil sesuatu dari dalam kantung plastik hitam. seperangkat alat tulis telah berada dalam genggamanya. Aku segera tahu, bahwa alat tulis itu adalah kepunyaan salah seorang anaknya yang ikut belajar bersamaku. Mulai dari buku, pensil, penghapus, semuanya adalah kepunyaan Dani. Aku memang membagikan seperangkat alat tulis kepada anak-anak yang ikur belajar bersamaku. Tapi sudahlah aku tak hendak menanyakan perihal alat tulis tersebut, takut Gento tersinggung. Ku ambil white board yang biasa ku gunakan untuk belajar bersama anak-anak. Ku tuliskan rangkaian abjad mulai dari A sampai Z. Selesai menuliskan abjad, kuminta Gento untuk mengikutiku membaca huruf per huruf.

Gento ternyata sudah mengenal huruf. Ini terbukti ketika ia ku minta menyebutkan huruf-huruf tersebut sendiri. Ini di luar dugaanku. Menurut gento, dulu ia pernah bersekolah namun hanya sebentar ini dikarnakan ia harus mengikuti keluarganya yang selalu berpindah-pindah. Kemampuanya mengenali abjad sudah menjadi modal awal untuk dia bisa membaca dan menulis. Lalu, kutuliskan nama-nama benda dan kuminta dia menyalinnya di buku. Dengan tekun dia mengerjakan apa yang aku minta. Dia kesulitan menulis, namun setelah cukup lama aku menunggu akhirnya selesai juga. Hasil tulisanya cukup baik untuk orang yang baru memulai menulis. Tak sampai di situ, kemudian aku meminta Gento untuk mengeja kalimat-kalimat yang tadi ia tulis. Terbata-bata ia mengeja. Usahanya keras sekali. Kembali ia menemukan kesulitan. Aku paham itu, ini pertama kalinya ia belajar mengeja di depan orang luar yang umurnya jauh di bawah umur Gento. Lidahnya keluh. Kubantu ia mengeja. Perlahan-lahan. Huruf per huruf hingga akhirnya membentuk kalimat dan mengandung arti. Mukanya berbinar. Kutuliskan lagi beberapa kalimat dan kuminta ia menuliskanya di buku untuk kemudian ia baca dengan cara mengeja. Ia semakin bersemangat. Dan aku tak mau memadamkan semangatnya. Lagi dan lagi, menulis dan mengeja. Terus seperti itu. Tak terasa sudah lebih dua jam kami belajar bersama. Wajahnya pun sudah nampak lelah. Tak beda dengan diriku. Sebelum pulang ke tenda, kuberikan ia sebuah pekerjaan rumah buatnya. Akan aku periksa besok malam untuk memastikan apakah dia mengulang pelajaran yang aku berikan malam ini. Gento berjanji untuk menyelesaikan PR yang aku berikan. Aku berpamitan padanya.

Dalam perjalan pulang kudapati warga yang sedang asik menonton tv masih di buai oleh alur-alur cerita sinetron yang monoton. Aku terus berjalan, tak tega menggangu kenikmatan mereka menonton. Ada semacam kepuasan dan semoga saja bukan bentuk kesombongan yang kurasakan manakala melihat mereka berusaha untuk terus bisa. Walau hanya Gento seorang yang saat ini mempunyai keinginan untuk berubah, tapi aku yakin suatu saat kelak akan bermunculan Gento-gento lain yang punya keinginan untuk maju. Malam-malam berikutnya aku dengan senang hati melangkahkan kakiku menuju rumah Gento, belajar bersama. Membantunya sebisaku agar ia juga seperti kita. Ia berjanji kepadaku untuk rajin belajar, dan aku pun berjanji akan membantunya bisa membaca alkitab agamanya. Sebuah permintaan yang sederhana dan kami memulainya dengan cara sederhana pula.

Halaman Sebelumnya

  Facebook