ENGLISH VERSION  |   KONTAK KAMI  |   SUMBER DANA  |   KUMPULAN PERATURAN   

Home

Tentang Kami

Web Gis

Penyaluran Dana

Program

  Cari Data :

 
User ID :
Password :
 

Koperasi Wanita Dahlia : Mewujudkan Mimpi Perempuan dalam Mengelola “Bank Petani Agroforest”

Tidak ada yang mengharapkan lahir dalam kondisi miskin, tidak juga bagi masyarakat desa (dusun) Lubuk Beringin Kec. Bathin III Ulu Kab. Bungo Jambi. Kemiskinan memang jelas terlihat hampir disemua masyarakat yang umumnya tinggal disekitar kawasan hutan. Kondisi keterbelakangan (SDM), keterisoliran serta keterbatasan dalam mengakses modal usaha, menjadi faktor nyata sehingga sulit bagi mereka untuk keluar dari garis kemiskinannya. Ditambah lagi dengan tingkat pendidikan yang rendah, minimnya infrastruktur dan sarana transportasi menjadi asalan rendahnya kemampuan masyarakat dalam memproduksi barang dan jasa di bandingkan dengan masyarakat yang tinggal dikota. Terbatasnya akses masyarakat terhadap sumber pendanaan juga membuat kehidupan semakin sulit, sehingga masyarakat terus bekerja hanya cukup untuk makan; tanpa berani bercita-cita lebih dan tidak berdaya untuk keluar dari kesulitan hidup yang semakin hari semakin dirasa berat.

Beban terberat di keluarga miskin yg tinggal di Dusun Lubuk Beringin sebetulnya ada pada pundak perempuan. Di samping beban dan tanggung jawab untuk menggurus rumah tangga, perempuan disana juga di tuntut untuk membantu suami dalam mencari nafkah hidup. Cukup banyak perempuan yang terpaksa mengangkat tangan untuk mencangkul di sawah, menyadap karet di kebun atau membantu pekerjaan di ”humo” (ladang) setelah ia menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya, hanya sekedar untuk memperoleh tambahan penghasilan bagi keluarga. Sementara dari penjualan hasil pertanian dan perkebunan yang diperoleh dari tetes keringat mereka, lebih banyak di nikmati dan berada di bawah kontrol pihak laki-laki. Dan perempuan kembali hanya dapat menikmati sebagian kecil saja dari usahanya.

Tidak cukup dengan memikul beban keluarga yang cukup berat, kaum perempuan di Desa Lubuk Beringin juga tidak punya banyak kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan sosial kemasyarakatan karena tingkat pendidikan yang rendah, ditambah usia yang relatif muda dan minim pengalaman sehingga perempuan-perempuan ini di nilai kurang cakap berorganisasi. Pada akhirnya perempuan menjadi kelompok yang terpinggirkan baik dari segi pendidikan maupun dalam pengembangan usaha-usaha produktif yang ada.

Berawal dari obrolan pinggir sungai oleh beberapa kaum perempuan saat mandi dan mencuci pakaian, muncul satu keinginan yang sama untuk mengatasi masalah dan keluar dari kesulitan ekonomi rumah tangganya. Gagasannya pun sangat sederhana yakni dengan membentuk kegiatan arisan (julo-julo) dimana setiap anggota akan membayar iuran sebesar Rp. 1.000,-/minggu melalui kegiatan rutin yasinan yang disepakati berlangsung setiap hari Jum’at, dan iuran itulah yang nantinya akan diputar dengan cara dipinjamkan ke anggota yang membutuhkan. Sedangkan simpanan pokok dikenakan Rp. 5.000,-/anggota. Bermodalkan komitmen dari 25 orang perempuanlah cikal bakal koperasi wanita Dahlia ini dimulai.

Perjalanan awal kelompok julo-julo inipun tidak semulus yang dibayangkan. Tidak sedikit orang di desa yang mencemooh bahkan meragukan kelompok ini akan bertahan. Namun keraguan itulah yang menjadi pecut bagi 25 orang perempuan tersebut untuk terus membuktikan bahwa kelompok julo-julo mereka pada akhirnya bisa berkembang dan memberikan manfaat nyata pada anggota-anggotanya. Upaya mereka untuk memperoleh penambahan modal usaha kelompok dilakukan dengan mengelola program PMTAS (Program Makanan Tambahan Anak Sekolah) SD Lubuk Beringin pada tahun 2000/2001 serta ujicoba pengembangan unit usaha berupa pembangunan kebun produktif dan kerajinan anyaman, meski kedua unit usaha ini pada akhirnya tidak berkembang. Baru pada pertengahan tahun 2001 lah unit simpan pinjam kelompok berjalan. Bermodalkan kas kelompok yang terkumpul dari iuran mingguan, 5 orang anggota akhirnya memperoleh pinjaman dengan besar pinjaman Rp. 100.000,-/orang. Pengembalian pinjaman sepakat dengan cara angsur selama 10 bulan, dengan bunga pinjaman 10%.

Kelompok Dahlia pun perlahan mulai dipercaya oleh masyarakat desa Lubuk Beringin lainnya, dan keanggotaanpun semakin bertambah. Atas dukungan tokoh-tokoh masyarakat setempat, kelompok Dahlia mulai mendapat pinjaman modal usaha dari program ICDP TNKS dalam bentuk penyertaan modal dari desa, lalu mendapat penambahan modal melalui dana DPD/K, memperoleh pinjaman modal usaha dari SSS Pundi melalui program Forest Governance Program (FGP) I dan II, memperoleh pinjaman dari program UP2K dan LKM Dahlia juga pernah mendapatkan dana hibah dari dinas Koperasi UKM propinsi Jambi.

Setelah modal usaha mulai berkembang dan berjalan dengan lancar, beberapa aturan kelompok pun mulai dipertegas dan unit-unit usaha mulai dibenahi. Pada tahun 2008 LKM Dahlia terdaftar sebagai lembaga keuangan resmi berbentuk Koperasi Wanita Dahlia dengan Badan Hukum No. 05/BH/VI/PERINDAGKOP/IX/2008. Walaupun proses terbentuknya secara partisipatif dan sukarela dengan mengandalkan kebersamaan dan kepercayaan sesama anggota; keberhasilan yang di raih Kopwan Dahlia tidak di dapat secara mudah. Kendala yang di hadapi masih berat terutama karena sistem management dan administrasi masih bersifat sangat sederhana dengan kapasitas Sumber Daya Manusia terutama pengurus dan anggota yang masih rendah. Kendala-kendala ini untungnya masih bisa teratasi dengan nilai-nilai yang selama ini berkembang di antara anggota seperti Kejujuran dan kesadaran; Ketegasan; Keterbukaan (Transparansi); Musyawarah dan Komunikasi; Kemandirian (Independent) dan saling percaya.

Keberhasailan perempuan desa Lubuk Beringin dalam mengembangkan Koperasi Wanita (Kopwan) Dahlia sebagai lembaga keuangan di kecamatan Bathin III Ulu, menjadi bukti nyata bahwa perempuan mampu berdiri sejajar dengan laki-laki, bahkan perempuan juga berperan dalam mengentasan kemiskinan. Melalui pinjaman yang di salurkan kepada anggota (perempuan) dan non anggota, usaha-usaha produktif keluargapun menjadi lebih terbuka. Pinjamanpun mulai diperuntukan masyarakat bagi biaya pendidikan anak, kebutuhan untuk berobat, pembangunan kebun-kebun karet bahkan untuk biaya pembangunan rumah. Kesulitan yang dihadapi masyarakat selama ini dalam memperoleh pinjaman untuk peremajaan kebun karet tua dan lahan-lahan terlantar dapat teratasi dengan bantuan pinjaman dari Kopwan Dahlia. Sehingga tanpa disadari atau tidak, keberadaan Dahlia cukup memberikan banyak perubahan pada sebagian besar kehidupan masyarakat Desa Lubuk Beringin yang tidak hanya menyentuh aspek ekonomi saja, melainkan juga aspek sosial, aspek pendidikan, budaya, kesehatan bahkan aspek ekologi sekitar.

Pada Tahun 2011 dalam upaya pengembangan unit usaha, Kopwan Dahlia mulai menyentuh aspek perdagangan. Bermula dari pinjaman modal usaha kepada anggota sebagai pedagang pengumpul pada musim buah, sampai memberikan dukungan dana talangan kepada kelompok petani karet ”Agroforest” untuk perdagangan karet. Dengan kondisi harga penjualan bokar yang relatif rendah, Dahlia mulai berfikir untuk meningkatkan mutu bokar supaya pendapatan petani juga meningkat. Jalan yang ditempuh adalah dengan proses penggilangan bokar menggunakan mesin creeper mini. Melalui dukungan berbagai pihak, pada tahun anggaran 2013 ini, Kopwan Dahlia mendapatkan hibah 2 unit mesin pengilingan karet dari bantuan Dinas Deperindag dan pembangunan gudang dari dinas Sosnakertrans Propinsi Jambi. Peningkatan mutu bokar ini di samping dapat meningkatkan pendapatan petani karet juga akan membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Desa Lubuk Beringin dan desa sekitar.

Beranjak dari keinginan untuk terus maju, Kopwan Dahlia juga mulai berinfestasi di bidang pendidikan; yakni mengembangkan kerjasama dengan salah satu Sekolah Dasar di Desa Lubuk Beringin dengan mengembangkan tabungan usia dini. Tabungan yang hanya dapat diambil ketika anak tamat SD ini, harapannya akan sangat membantu ketika anak akan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Pelayanan Kopwan Dahlia saat ini tidak hanya menjangkau anggota koperasi di tingkat desa saja, melainkan juga sudah di rasakan oleh perempuan dari desa-desa di kecamatan Bathin III Ulu. Belum semua mimpi Dahlia tercapai, tapi paling tidak Dahlia sudah memulai perannya sebagai”Bank Petani Agroforest” di tingkat desa dan sudah memberikan manfaat yang nyata bagi anggota dan masyarakat sekitarnya.***




Halaman Sebelumnya

  Facebook