ENGLISH VERSION  |   KONTAK KAMI  |   SUMBER DANA  |   KUMPULAN PERATURAN   

Home

Tentang Kami

Web Gis

Penyaluran Dana

Program

  Cari Data :

 
User ID :
Password :
 

Ketika Para Penyuluh Hadir di Tengah Komunitas SAD Kecamatan Pamenang Provinsi Jambi

Diantara suku asli minoritas yang saat ini hidup dalam keadaan miskin yang sangat ekstrim di Sumatera adalah kelompok Suku Anak Dalam (kadang-kadang di sebut Kubu dan juga Orang Rimba) yang menyebar disepanjang jalan raya lintas tengah Sumatera mulai dari perbatasan Sarolangun – Musi Rawas, Merangin, Bungo sampai ke Dharmasraya, dan Suku Bathn IX yang hidup di sekitar kawasan hutan eks. HPH PT. Asialog. Dua kelompok suku ini hidup di wilayah propinsi Jambi dan sebagian wilayah propinsi Sumatera Selatan serta Sumatera Barat (tepatnya Kabupaten Dharmasraya).

Saat ini mereka tidak hanya kehilangan areal/kawasan yang menyediakan sumber penghidupan, tetapi juga kehilangan identitas karena tidak adanya pengakuan tentang keberadaan mereka baik dari kelompok masyarakat lain maupun oleh pemerintah. Tetapi sedikit melegakan karena di beberapa kabupaten di Jambi, eksistensi SAD mulai diakui oleh pemerintahnya.

SSS PUNDI atas dukungan dari PNPM-Peduli, telah melakukan beberapa survey dan kajian, serta beberapa uji coba terkait dengan layanan kesehatan dan pendidikan, sebagai upaya awal untuk mengidentifikasi langkah kedepan yang bisa didorong bersama parapihak guna mendukung keberlangsungan hidup SAD disepanjang lintas tengah Sumtera. Sampai sejauh ini tim SSS PUNDI baru bisa berinteraksi dengan sekitar 167 KK, yang tersebar pada 17 rombong dan berada pada wilayah administratif Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Merangin, Kabupaten Bungo dan Kabupaten Dharmasraya. Diduga masih terdapat anggota-anggota rombong (kelompok) yang sedang berada didalam hutan dan membentuk kelompok-kelompok kecil dan belum terjangkau oleh tim SSS PUNDI.

Meskipun beberapa rombong tersebut masih mengandalkan berburu (babi, trenggiling, dll) sebagai sumber penghidupan utama, namun untuk mendapatkan hasil buruan dirasakan sudah sangat sulit. Beberapa rombong sudah mulai menggarap lahan untuk berkebun karet (ada juga yang menanam sawit) dengan luasan yang tidaklah memadai untuk menghidupi rumah tangga. Tidak sedikit diantara rombong-rombong SAD yang juga sudah ingin berkebun namun lahan tidak bisa mereka akses. Selain tentang lahan, tingkat produksi juga masih cukup rendah karena memang teknik budidaya dan teknik panen yang belum memadai. Demikian pula halnya dengan harga karet yang seringkali ditetapkan secara sepihak oleh pembeli.

Sejak pertengahan tahun 2012 lalu, SSS PUNDI juga memfasilitasi pemberian beberapa alternative kegiatan guna meningkatkan ekonomi bagi komunitas tersebut, diantaranya berupa pemberian ternak kambing, pengembangan ikan kolam serta pemanfaatan lahan pekarangan dengan tanaman sayur mayur bagi komunitas SAD di beberapa lokasi rombong. Namun kendala yang ditemui masih sama yakni kurangnya pengetahuan teknis dari komunitas SAD dalam mengembangkan beberapa alternative kegiatan yang di berikan tersebut.

Berkaitan dengan hal diatas¸ SSS PUNDI pada tanggal 23-24 April 2013 lalu memfasilitasi adanya kunjungan dari Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Merangin serta BP3K Kecamatan Pameneng untuk melakukan kunjungan lapang dan memberikan fasilitasi teknis pada kegiatan-kegiatan di lokasi SAD. Lokasi kunjungan adalah 3 (tiga) rombong, yakni Rombong Sargawi dengan kegiatan pengembangan ikan kolamnya, rombong Ngungkai dengan kegiatan ternak kambing, pengembangan ikan kolam dan pemanfaatan lahan pekarangan dengan tanaman sayur mayur, serta yang terakhir rombong Mansyur dengan kegiatan ternak kambingnya.


Enam tenaga penyuluh yang terlibat dalam kesempatan tersebut melakukan pemantauan atas kondisi kegiatan di lapangan, melakukan diskusi langsung dengan anggota rombong tentang kendala yang di hadapi serta langsung memberikan masukan atas teknis kegiatan pemeliharaan, pemberian pakan, teknis pengairan air kolam, jenis-jenis pakan dari tumbuhan sekitar, penyiapan lokasi kegiatan, pembibitan serta pemupukan dan lain sebagainya.

Meski terbilang singkat kunjungan tenaga penyuluh ini dirasakan bermanfaat bagi anggota rombong SAD, Ngilo (anggota Rombong Mansur) misalnya, menyampaikan bahwa dari 11 ekor ternak kambing yang ada - sudah 3 ekor yang mati tanpa ia ketahui apa penyebabnya. Ternyata setelah ditelusuri, ternak biasa dikeluarkan dari kandang pada pagi hari ketika rumput masih kondisi berembun sehingga ketika dikonsumsi oleh ternak, mengakibatkan kambing masuk angin hingga kemudian sakit dan mati.

“kami kawatir ternak kelaparan dan kurang makan pak, jadi kami keluarkan kambing kami setiap pagi. Kami tidak tahu kalau rumput pagi yang berembun bisa membuat kambing masuk angin!” ujar Pemetul (anggota rombong Ngungkai) menanggapi penyuluhan yang disampaikan oleh Pak Yusuf ahli peternakan dari BP3K Kecamatan Pamenang Kabupaten Merangin.


Tim penyuluh yang terlibat 2 hari di lokasipun mempunyai kesan yang berbeda sekembalinya dari lokasi kegiatan SAD. Mereka melihat SAD di 3 lokasi tersebut sudah banyak sekali mengalami perubahan, mau belajar dan mau mendengarkan. Mereka berharap pendampingan teknis bisa secara berkala diberikan, bahkan akan lebih menarik kalau melibatkan para pengurus dari kelompok tani di Desa terdekat. “agar SAD lebih terbuka, dan orang desa pun secara perlahan bisa menerima mereka sebagai bagian dari masyarakat merangin” ujar Pak Fajar (Sekretaris BP4K Kabupaten Merangin Provinsi Jambi).

Halaman Sebelumnya

  Facebook