ENGLISH VERSION  |   KONTAK KAMI  |   SUMBER DANA  |   KUMPULAN PERATURAN   

Home

Tentang Kami

Web Gis

Penyaluran Dana

Program

  Cari Data :

 
User ID :
Password :
 

Ramaikan EXPO AKSIS 2017, Faswil Tengah Selatan Undang Anggota Konsorsium

Kondisi hutan Sumatera yang semakin hari semakin berkurang, tidak kata lain yang harus dilakukan selain upaya konservasi. Konservasi tidak bisa juga dilihat dalam teropong perlindungan kawasan hutan tanpa memperhatikan kesejahteraan masyarakat yang berada di dalam maupun sekitar hutan. Karena sejatinya upaya konservasi adalah pengelolaan alam yang berkelanjutan. Konservasi dan ekonomi adalah dua pilar yang harus berjalan beiringan untuk meningkatkan kualitas hidup bagi alam dan manusia. Riya Dharma Fasilitator Wilayah Tengah Selatan TFCA Sumatera menyebutkan kegiatan expo ini adalah bagian dari kegiatan penyadaran pada masyarakat dalam membangun pandangan baru pada konservasi dan ekonomi berkelanjutan. “ kegiatan ini kedua kali dilakukan setelah sebelumnya yang pertama kali dilakukan di Kota Jambi. Kita berharap kegiatan ini akan menjadi ikon dalam membangun pendidikan konservasi dalam ekonomi berkelanjutan,” katanya.

Riya Dharma yang akrab di panggil dengan sebutan Datuk menyebutkan bahwa upaya konservasi tidak boleh menghilangkan peran serta masyarakat yang berinteraksi dengan kawasan hutan. “ Kita selalu merumuskan aspek pemberdayaan perekonomian masyarakat di dalam kawasan, kita tidak bisa bicara upaya penyelamatan berbasis lansekap saja. Misalnya bicara penyelamatan Taman Nasional, penyelamatan satwa, tanpa adanya pembahasan tentang nilai-nilai ekonomi. Selain nilai ekonomi tak terhitung diantaranya kebutuha air, udara yang langsung sudah mereka dapatakan,” tambahnya.

Hal itu diaminkan, Wiratno Dirjen KSDAEKLHK memaparkan dalam pertemuan dengan media di Lapangan Merdeka, Medan. Saat ini, ada 86.800 desa di pinggir kawasan hutan negara dan 5.600 desa yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi. Sebagai contoh, di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) ada Desa Namo Sialang dan Desa Sei Serdang yang masyarakatnya menjaga hutan.

“Manusia sudah ada di sana sebelum kawasan konservasi ditetapkan. Ini filosofi konservasi, melindungi keragaman hayati bagi kelanjutan hidup manusia di masa depan, dengan menyejahterakan generasi sekarang,” sebutnya.

Datuk menjelaskan ada 17 anggota konsorsium yang berada pada wilayah Tengah dan Selatan yang meliputi tujuh Provinsi menghadiri kegiatan expo AKSIS 2017 tersebut. Sebagai penggagas, Datuk berharap kegiatan ini bisa terus dilakukan setiap tahunnya, agar pemahaman masyarakat dalam mengenal upaya-upaya konservasi juga bisa menyeluruh ditangkap. “Bisa di Provinsi mana saja, yang terpenting adalah upaya peningkatan pemahaman terkait konservasi ini bisa tersampaikan dengan masyarakat secara luas,” tambahnya.

Sejak dimulai, 2010 program TFCA Sumatera telah mengintervensi 12 lansekap konservasi prioritas mulai dari Aceh hingga Lampung. Tidak kurang dari 35 lebaga mitra (LSM, NGO, Perguruan Tinggi) telah terlibat untuk mengimplementasikan program peguatan, kebijakan pengelolaan kawasan, program perlindungan, dan pengamanan kawasan, program penyelamatan spesies kunci serta program pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang berujung pada upaya peningkatan masyarakat sekitar hutan.



Halaman Sebelumnya

  Facebook