ENGLISH VERSION  |   KONTAK KAMI  |   SUMBER DANA  |   KUMPULAN PERATURAN   

Home

Tentang Kami

Web Gis

Penyaluran Dana

Program

  Cari Data :

 
User ID :
Password :
 

Pemulihan Lahan Terlantar dan Kritis Melalui Penanaman Kopi Arabika di Bukit Bulat Sungai Renah Desa Pasar Minggu Kecamatan Kayu Aro Barat Kabupaten Kerinci Propinsi Jambi

Lahan terlantar tersebar hampir pada seluruh wilayah Kerinci total luasnya diperkirakan mencapai 47.750 ha. Data dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kerinci tahun 2015, terdapat 15.700 ha lahan terlantar di Kabupaten Kerinci baik yang terdapat dalam kawasan KPHP (Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi) maupun APL (Areal Penggunaan Lain). Begitupun yang terjadi di Bukit Bulat Sungai Renah Desa Pasar Minggu Kecamatan Kayu Aro Barat Kabupaten Kerinci yang sebagian besar termasuk dalam wilayah pengelolaan KPHP Model Unit 1 Kerinci. Petani yang berjumlah total 100 orang tergabung dalam dua kelompok tani yaitu, Kelompok Tani Sumber Rezeki dan Kelompok Tani Telang Kuning didampingi LSM Green Development (Greendev) sebagai anggota Konsorsium SSS Pundi Sumatera dimana melakukan pendampingan dalam upaya peningkatan ekonomi lokal melalui pemanfaatan lahan terlantar dan kritis. Defrizal, Ketua Kelompok Tani Sumber Rezeki menyebutkan selama ini mereka meninggalkan kawasan tersebut dikarenakan ketidakjelasan status kawasan dan lahannya tidak bisa diolah karena kehilangan kesuburannya.

Proyek Optimalisasi Pengelolaan Sumber Daya Alam Lestari SSS Pundi Sumatera yang didukung oleh MCA Indonesia menggandeng Greendev dalam upaya pendampingan lapangan pada dua kelompok tani tersebut. Kopi Arabika dipilih sebagai komoditas yang dikembangkan karena memiliki nilai jual yang baik, dan juga menyita waktu cukup banyak. Sehingga kekhawatiran akan tekanan terhadap pembukaan lahan perladangan di kawasan TNKS akan berkurang.
Neneng, Kepala KPHP Unit I Kerinci menjelaskan lahan terseut memang dalam kondisi kritis sehingga perlu perlakukan khusus untuk bisa kembali ditanam. Sementara kejelasan status kawasan, Konsorsium SSS Pundi Sumatera mendorong adanya penandatanganan MoU tentang Optimalisasi Pengelolaan Sumber Daya Alam Lestari.

Pada tanggal 31 Maret 2017 yang lalu, sudah ditandatangani MoU (Nota Kesepahaman Para Pihak) tentang Optimalisasi Pengelolaan Sumber Daya Alam Lestari (OPAL) Pada Blok Perladangan Sungai Renah Desa Pasar Minggu Kecamatan Kayu Aro Barat Kabupaten Kerinci antara petani, KPHP Model Unit 1 Kerinci, GreenDev dan SSS Pundi Sumatera serta diketahui oleh Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Jambi. Proyek Optimalisasi Pengelolaan Sumber Daya Alam Lestari yang didanai MCA Indonesia melakukan penguatan pada kelompok tani, baik dalam memastikan kelegalan lahan yang ditanami masyarakat, peningkatan kapasitas petani dalam pemulihan kesuburan tanah, teknik budidaya kopi arabika melalui skema sekolah lapang. Sutono, Direktur Pundi Sumatera menjelaskan berbegai bentuk dukungan MCA Indonesia dilakukan dengan pembibitan dan penanaman. “ Kita melakukan pembibitan di rumah bibit dimulai dari benih. Total ada 160.000 bibit kopi arabika dan 20.000 bbit tanaman kayu berupa surian dan medang hijau. Selain itu ada kegiatan penguatan kapasitas petani dalam teknik budidaya kopi arabika melalui Sekolah Lapang,”jelasnya.

Sekolah lapang ini melibatkan para professional dan tenaga ahli dalam teknik budidaya dan pemulihan tanah. Direktur Greendev, Rusdi Fachrizal menjelaskan bahwa sebelumnya mereka sudah melakukan pendampingan di Kelompok Hang Kito Semurup Kecamatan Air Hangat untuk kegiatan penanaman di lahan terlantar. “ Kita sudah pernah melakukan program serupa dan berhasil, sampai sekarang ada kebun bibit desa untuk tanaman Mahoni, surian dan pinang. Pemulihan kawasan ini sekarang sudah terbukti dengan adanya cadangan air karena tanaman kayunya tumbuh dengan baik. Mereka bahkan sekarang bisa membuat kolam ikan di sana,” ungkapnya.

Selain dua poin yang sedang dilakukan, Sutono menyebutkan perlunya pendampingan terhadap legalitas kawasan. Karena yang ada saat ini hanya berupa MoU yang sifatnya tidak kuat.”Pilihan saat ini dalam skema perhutanan sosial dan diskusi yang dilakukan petani menyepakati skema Hkm (Hutan Kemasyarakatan),” sebutnya.

Luas areal kawasan yang sedang dikerjakan oleh dua kelompok tani tersebut seluas 100 hektar dari keseluruahan 510,5 hektar lahan terlantar yang ada. Ke depan, Sutono berharap pemerintah dapat menyiapkan pengembangan industry pengolahan kopi di sana. “Kondisi yang ada saat ini petani hanya menjual kopi siap petik yang harganya murah jika dibandingkan yang sudah diolah. Pemerintah Kabupaten maupun Provinsi perlu memikirkan dukungan alat-alat dari pertanian kopi ini sehingga mendukung daya jual biji kopi yang tinggi pada petani. Minimal petani menjual dalam bentuk greenbean,”pungkasnya.

Halaman Sebelumnya

  Facebook