ENGLISH VERSION  |   KONTAK KAMI  |   SUMBER DANA  |   KUMPULAN PERATURAN   

Home

Tentang Kami

Web Gis

Penyaluran Dana

Program

  Cari Data :

 
User ID :
Password :
 

Catatan Refleksi Pertemuan TFCA Sumatera Wilayah Tengah

Sebuah Catatan Refleksi Pertemuan TFCA Sumatera Wilayah Tengah yang dilangsungkan di Padang awal Agustus 2017. Pertemuan yang melibatkan delapan mitra yaitu, Yayasan Taman Nasional Teso Nilo, KiNapat, Unand Pili, Akar Network, Animal Indonesia, Jikalahari, HIPAM, dan Genesis. Persoalan pengelolaan sumber daya alam dan hutan yang dilakukan tanpa memperhatikan keberlanjutan telah menghadirkan banyak masalah. Diawal-awal diskusi, konflik satwa menjadi kendala beberapa mitra. Animal Indonesia yang fokus pada perlindungan satwa memaparkan masih banyak ditemukan perdagangan satwa yang lolos. Bahkan hukuman bagi pelaku masih dinilai tidak memberikan efek jera.

Warno, Animal Indonesia menyebutkan, minimnya kapasitas tim BKSDA yang bertanggungjawab pada perlindungan satwa yang dilindungi ini, membuat banyak perdagangan satwa lolos. Animal Indonesia melakukan upaya pendekatan melalui sekolah guna peningkatan pemahaman masyarakat terkait satwa yang dilindungi. Supin, Genesis menanggapi banyaknya kasus pembunuhan dan perdagangan satwa yang hilang begitu saja di daerah Bengkulu.

Ancaman punahnya satwa bisa juga dari adat tradisi yang ada di masyarakat. Seperti contoh yang ada di Mentawai, ada tradisi ketika kebiasaan upacara adat menggunakan beruk sebagai korban dalam ritual. Edukasi tentang upacara adat seperti itu harus perlu pendekatan dengan tokoh adat, pemuka masyarakat, dan pemuda. Bagaimana menjelaskan untuk menggantikan hewan tersebut dengan jenis hewan lain tetapi tidak mengurangi nilai tradisi. Namun ini butuh waktu dan proses, sebut Warno.
Masih terkait satwa, UNAND Pili juga sedang mengadvokasi rumah baru bagi harimau yang ditemukan di kebun sawit. Spot-spot hutan yang ada di tengah-tengah kebun sawit membuat diperlukan koridor yang menjadi areal jelajah harimau. Agus, Unand Pili menyebutkan saat ini sudah ada PT TKA yang membuat pusat rehabilitasi harimau sumatera dan mendirikan yayasan konservasi yayasan (Hasari).

Permasalahan penolakan jalan evakuasi yang membelah TNKS sudah bergulir sejak lama. Ambisi pemda untuk membangun jalan dengan banyak alasan salah satu pembangunan, dan peningkatan ekonomi. Kendati demikian, surat penolakan terus dilayangkan namun dalam RTRW kabupaten jalan evakuasi masih dicantumkan. Pembangunan jalan ini tentu saja bertentangan dengan pembangunan berkelanjutan yang memikirkan aspek ekologi selain aspek lainnya. Terkait penolakan jalan di areal TNKS ada dua SK penolakan Menhut yang sudah didoraong, yaitu : SK Menhut No.s.269/2015 tentang Penolkan pembangunan jalan di TNKS mellui rute Lempur Muko-Muko, Lebong- Merangin, Lebong Musi Rawas, dan Muko-Muko Kerinci dan SK Menhut-KSDAE. No 5.545/2016, tentang penolakan pembangunan jalan dari : Lebong-Merangin, Lebong Musi rawas dan Muko muko _ Kerinci.

Pengembangan peningkatan perekonomian masyarakat, guna menekan pembukaan lahan baru melalui pemberian bibit kopi arabika dan tanaman kayu untuk meremajakan kebun yang sudah lama ditinggalkan masyarakat.

Di beberapa mitra TFCA wilayah Sumatera menghadapi permasalahan yang sama terkait pembangunan yang beorientasi pada pemasukan daerah saja.Sehingga ijin pertambangan, perkebunan dan HTI begitu saja meluncur dengan cepatnya. Tanpa memperhatikan kondisi wilayah, topografi, ekologi, dan sosial budaya masyarakat. Bahkan terkadang melupakan ada masyarakat yang menggantungkan hidup di sana, ada satwa yang terancam. Pertemuan ini membuat semua mitra di wilayah tengah dengan mengusung isu pembangunan yang menitik beratkan pada ekologi dapat bersama-sama membuat gerakan untuk menghentikan pola-pola pembangunan berbasis pemasukan yang rawan dengan penyelewengan dan pengabaian masyarakat yang hidup dan berada di dalam kawasan.



Halaman Sebelumnya

  Facebook