ENGLISH VERSION  |   KONTAK KAMI  |   SUMBER DANA  |   KUMPULAN PERATURAN   

Home

Tentang Kami

Web Gis

Penyaluran Dana

Program

  Cari Data :

 
User ID :
Password :
 

Training Penulisan, Berbagi Cerita Pada Gennerasi

Heri Karni, laki-laki asal Kerinci ini rela melewatkan hampir sepuluh jam perjalanan darat agar sampai di Kota Jambi. Dia bersama sepuluh teman Pendamping yang merupakan mitra SSS Pundi Sumatera (LTB, QBAR, Bujang Zuar, Greendev) mengikuti pelatihan menulis. Menulis bukan hal yang baru bagi teman-teman pendamping, begitupun bagi Heri. Sejak sekolah dasar pelajar menulis sudah diselipkan dalam materi pelajaran Bahasa Indonesia. Tapi menurutnya, kemampuan menulis tidak terbiasa dilakukan karena beberapa alasan. Merasa tidak memiliki kemampuan, tidak memiliki waktu, tidak menyukai dunia kepenulisan menjadi alasan basi yang selalu menjadi tameng agar tidak memaksa diri untuk menulis. Syafrialdi, Penulis lepas yang menjadi pemateri pelatihan menulis bahan pembelajaran yang dilakukan SSS Pundi Sumatera menyebutkan menulis adalah pekerjaan peradaban. Dengan menulis informasi apa saja yang ada saat ini akan dibagi dari satu generasi kegenerasi berikutnya.

Bagi Bang “Al” demikian sapaan akrabnya, tidak ada orang yang tidak mampu menulis jika dia bisa membaca. Kunci utama dalam menulis hanya keinginan saja mematut mata di depan layar komputer dan membiarkan pikiran kreatif menari-nari di atas tombol penjarian komputer. Banyak calon penulis berakhir pada ribuan ide dan data tanpa sanggup menuangkannya dalam sebuah tulisan.

Heri menyusun bilah-bilah kertas karton berwarna-warni. Tertulis satu kata dalam satu lembar kertas. Kata tersebut berisi ide dari setiap kata kunci yang disebut Bang Al. Bang Al menyerukan Liburan sebagai kata kunci, Heri dengan cekatan menulis tiga kata yang dia pikirkan. Gunung, keluarga dan mobil menjadi kata yang ia pikirkan ketika nuansa liburan menyeruak di dalam otaknya. Kertas berwarna-warni tadi berisi banyak kata dari sepuluh peserta. Ditempelkan berdasakan kategori yang dibutuhkan dalam mengartikan liburan.

Bang Al mengatakan kertas-kertas lain yang melengkapi kata kunci liburan adalah teknik dasar membuat peta pikiran. Peta pikiran ini sangat dibutuhkan calon penulis dalam menentukan tema dan sub tema sebelum memulai menulis. Peta pikiran juga membantu penulis ketika kehilangan ide untuk memulai dari banyaknya data yang diperoleh. Peta pikiran yang akan membuat menulis menjadi mudah dan tentu saja menyenangkan.

Heri mulai menyalin peta pikirannya dalam selembar kertas. Dia menggunakan pulpen berwarna dan menggambar peta pikiran menjadi semenarik mungkin. Awalnya dia mereka-reka akan ada proposal menulis yang tentu saja rumit untuk memulai menulis. Ketika disodorkan peta pikiran, Herni berujar ternyata menulis itu tidak sesulit yang ia bayangkan. Dulu dia memilih kuliah di bidang eksakta agar bisa menghindar dalam kelemahannya menulis. “Satu-satunya produk menulis yang dihasilkan hanya skripsi saja, memang tidak bisa menulis,” certianya sembari tersenyum.

Selain membuat peta pemikiran dalam mempermudah mencari ide menulis. Bang Al mengatakan niat menjadi sesuatu yang penting harus dibenahi agar tulisan yang dihasilkan membawa pesan bagi pembaca. “ Dulu saya nitanya gagahan aja menulis ini. Niat ini yang perlu diberesin,kalau niatnya tidak benar. Menulis tidak akan mendapatkan apa-apa. Karya yang dihasilkan juga akan bisu dan pesan yang dibawa tidak akan samapi ke pembaca. Bang Al berulang-ulang menyebutkan selain metode penulisan penguasaan 5W + 1H (What, When, Where, Who, Why dan How) yang harus diketahui penulis dalam mengambangkan tulisannya. Penulis juga tidak hanya serta merta memikirkan bagaimana menceritakan sebuah tulisan ke pembaca, tapi juga berkewajiban untuk membawa pembaca merasakan pesan yang ingin disampaikan penulis.

Dalam tahapan menulis yaitu persiapan, inkubasi, iluminati dan verifikasi. Persiapan merupakan tahapan pencarian data bagi penulis. Dan setelah itu ada tahapan inkubasi, dimana penulis mulai mencari inspirasi untuk memulai menuliskan data-data yang dia miliki. Pada tahapan ini, banyak yang akhirnya terhenti dan tidak menghasilkan apa-apa. Bagi penulis harus bisa sesegera mungkin terlepas dari masa tersebut agar bia berkarya. Inkubasi bisa dipecahkan dengan berbagai tips. Ada beberapa penulis melakukan pemaksaan diri untuk menulis secara rutin. Biasanya mereka menjadwalkan dalam satu hari meluangkan minimal satu jam untuk menulis. Ada juga dengan melakukan hal-hal di luar kebiasaan agar bertemu dengan aktifitas, orang yang baru menghadirkan ide-ide yang baru.

“Keluar dari tahap inkubasi bisa dilakukan oleh setiap penulis dengan berbagai cara yang dia pikir mampu membuatnya berpikir secara kreatif lagi,” sebut Bang Al.

Bang Al kerap melakukan taktik lain untuk mendapatkan ide menulis. Dia selalu memiliki kebiasaan menaroh selembar kertas dan pulpen d tempat tidur. Kedua alat tersebut berfungsi sebagai perekam ide-ide yang muncul menjelang dia tidur. “ Biasanya menjelang tidur, pikiran kreatif kita berseliweran. Dan kita akan menyimpan itu dalam kertas dan pulpen. Itu menjadi trik juga,” jelasnya.

Hari keempat pelaithan merupakan hari terakhir Heri belajar menulis. Dia sudah menyusun beberapa materi untuk bahan tulisan. Pembibitan kopi arabika sebagai kata kunci yang ingin dia tulis. Heri menyebutkan dia merasa percaya diri untuk memulia menulis. “ yang harus saya lakukan adalah mencoba memperbayak bahan bacaan lagi. Karena selama ini Herni hanya tertarik buku motivasi saja,” sambungnya.





Halaman Sebelumnya

Share

Friend Link: MBT Garissa Women Nike Air Force 1 High Cheap Nike Elastico Superfly IC Nike Roshe Run Floral Swoosh Adidas Adizero F50 FG MBT Fora Women